Tugas Evaluasi Pembelajaran
Soal Seputar Presentasi
1. Apa yang menjadi kendala atau hambatan dalam mengembangkan evaluasi non tes?
Jawaban:
Hambatan pelaksanaan evaluasi non-tes adalah segala sesuatu yang menghalangi atau melemahkan pelaksanaan evaluasi sehingga tidak mencapai tujuan yang telah ditentukan. Menurut Aziz Wahab 2002: 174 dalam penilaian yang menyangkut aspek non-kognitif tersebut memang kurang mendapat perhatian dikarenakan beberapa hal, antara lain:
- Sulitnya mengidentifikasi hasil-hasil pendidikan moral dan menerjemahkannya ke dalam perilaku peserta didik yang diamati.
- Sulitnya mengembangkan kriteria untuk menilai hasil pendidikan moral.
- Adanya kekurangan dalam prosedur penilaian, teknik dan demikian pula alat dan instrumen penelitian.
- Kurang terampilnya guru dalam melakukan evaluasi afektif sebagai hasil pendidikan moral.
- Kurangnya tenaga- tenaga terlatih yang dapat menyiapkan bahan-bahan dan instrumen penilaian dalam bidang pendidikan moral.
- Kurangnya keterkaitan antara sekolah dengan lembaga-lembaga sosial lainnya yang mempengaruhi anak dalam pendidikan moral.
- Kurangnya minat dan inisiatif guru pendidikan moral.
- Beratnya beban bahasa language load pada peralatan dan instrumen.
- Sulitnya memperoleh alat-alat penilaian yang bebas budaya cultural-free.
- Sulitnya untuk menggunakan secara efektif hasil-hasil penilaian terhadap penilaian peserta didik.
- Kurangnya bahan-bahan kepustakaan tentang evaluasi dalam pendidikan moral.
- Amat terbatasnya penelitian dalam bidang evaluasi pendidikan moral.
- Tingginya rasio antara guru dan peserta didik.
- Terlalu banyaknya ujian yang dilakukan dalam mata pelajaran.
Sumber : PENGGUNAAN TEKNIK EVALUASI NON-TES DAN HAMBATANNYA PADA PENILAIAN PEMBELAJARAN, (2015) Oleh Intan Putri Fadarwati.
2. Apa bentuk bentuk penilaian di kelas yang dapat dilaksanakan oleh guru sebutkan dan jelaskan ?
Jawaban:
Adapun jenis penilaian berbasis kelas yang digunakan guru antara lain adalah sebagai berikut:
Tes tertulis adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Sedangkan tes tertulis adalah alat penilaian berbasis kelas yang penyajiannya dalam bentuk tertulis. Tes ini dapat berupa pilihan ganda, menjodohkan, benar salah, isian singkat dan uraian. Biasanya tes tertulis digunakan untuk menilai pengetahuan yang dimiliki peserta didik.
Tes perbuatan adalah tes yang dilakukan dengan jawabannya merupakan perbuatan dari siswa yang sedang dinilai. Tes perbuatan adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dari segi praktek dan pengetahuannya. Jadi tes ini digunakan oleh guru pada saat proses pembelajaran berlangsung yang memungkinkan terjadinya praktek, untuk mengukur indikator yang ditetapkan dalam kurikulum yang mengarah pada ranah psikomotorik.
Pemberian tugas ini dilakukan mulai dari awal kelas sampai dengan akhir kelas yang sesuai dengan kemampuan, perkembangan peserta didik. Materi pemberian tugas harus sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan kurikulum. Pemberian tugas ini dapat berupa tugas individu yang dilakukan guru secara periodik, tugas tersebut dapat diselesaikan di kelas maupun di luar kelas (rumah). Pemberian tugas juga dapat berupa tugas kelompok, biasanya tugas tersebut berupa hal-hal yang bersifat empirik dan kasuistik, kemudian peserta didik diminta melakukan pengamatan langsung dari lapangan.
Penilaian proyek adalah penilaian berbasis kelas terhadap tugas yang harus di selesaikan dalam waktu tertentu. Penilaian ini dilakukan guru untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman peserta didik pada pembelajaran tertentu. Dalam penilaian proyek guru hendaknya memonitor ketrampilan siswa dalam merencanakan, menyelidiki, dan menganalisa proyek.
Penilaian hasil kerja peserta didik (produk) adalah penilaian berbasis kelas terhadap penguasaan ketrampilan peserta didik dalam membuat suatu produk (proses) dan penilaian kualitas hasil kerja peserta didik tertentu.
Pelaksanaan penilaian produk meliputi penilaian berbasis kelas terhadap tahapan-tahapan sebagai berikut:
- Tahap persiapan: Menilai ketrampilan merencanakan, merancang, menggali atau mengembangkan ide.
- Tahap produksi: Menilai kemampuan memilih dan menggunakan bahan, alat, dan teknik kerja.
- Tahap Penilaian (Apprasial).
Penilaian Sikap adalah suatu predisposisi atau kecenderungan untuk melakukan suatu respon dengan cara-cara tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun obyek-obyek tertentu.35 Jadi penilaian sikap dapat dilakukan dalam berbagai mata pelajaran yang berkaitan dengan berbagai obyek. Sikap antara lain yaitu sikap terhadap mata pelajaran, sikap terhadap guru mata pelajaran, sikap terhadap proses pembelajaran, sikap terhadap materi pembelajaran dan sikap yang berhubungan dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam diri peserta didik melalui materi tertentu.
Penilaian portofolio adalah menilai karya-karya peserta didik berkaitan dengan mata pelajaran tertentu. Dalam penilaian portofolio ada lima manfaat dasar portofolio. Thomas Armstrong menyebutnya “5 K penyusunan portofolio”, yaitu sebagai berikut:
1. Karya yang dihargai. Untuk mengakui dan menghargai hasil karya dan prestasi siswa selama satu tahun ajaran
2. Kognisi. Untuk membantu siswa menilai sendiri hasil karyanya
3. Komunikasi. Untuk mengkomunikasikan kemajuan proses belajar siswa kepada orang tua, pengasuh dan siswa sendiri
4. Kerjasama. Untuk menyediakan sarana bagi sekelompok siswa sehingga dapat menghasilkan karya cipta dan mengevaluasinya secara kolektif.
5. Kompetensi. Untuk menetapkan kriteria yang membandingkan hasil karya siswa dengan siswa lain, atau dengan titik acuan atau standar tertentu.
Dengan menggunakan penilaian portofolio, kompetensi peserta didik dapat diketahui yaitu dengan melihat berbagai kumpulan tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik.
Sumber : https://www.e-jurnal.com/2014/02/jenis-jenis-penilaian-berbasis-kelas.html
3. Apakah penilaian berbasis kelas hanya berfokus pada domain kognitif saja?
Jawaban:
Penilaian berbasis kelas dilakukan untuk memberikan keseimbangan pada tiga domain, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor dengan menggunakan berbagai bentuk dan model penilaian yang dilakukan secara sistematis dan sistemik, menyeluruh dan berkelanjutan.
Sumber : Jurnal Seuneubok Lada, Vol. 3, No.2, Juli - Desember 2016, Pelaksanaan Penilaian Berbasis Kelas Oleh Joko Hariadi
4. Kriteria apa yang digunakan untuk menafsirkan tingkat kesukaran soal?
Jawaban:
Seperti yang dikemukakan oleh(Arifin, 2009 : 270) yang menyatakan bahwa, adapun kriteria penafsiran tingkat kesukaran soal adalah :
1) Jika jumlah persentase sampai dengan 27% termasuk mudah.
2) Jika jumlah persentase sampai dengan 28% -72% termasuk sedang.
Sumber: https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/kjb/article/download/10814/10017#:~:text=Seperti%20yang%20dikemukakan%20oleh(Arifin,%25%20%2D72%25%20termasuk%20sedang.
Komentar
Posting Komentar